PENDAHULUAN
Selama ini Indonesia dikenal sebagai negara yang mengalami ketergantungan terhadap minyak bumi. Seperti diketahui bahwa jumlah pasokan dan cadangan minyak bumi makin lama semakin berkurang, diperkirakan dalam kurun waktu 10 – 15 tahun ke depan cadangan minyak bumi Indonesia akan habis. Dengan melonjaknya harga minyak bumi dunia, maka sudah saatnya kita harus mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi dan mengembangkan sumber energi alternatif antara lain yang berbahan baku campuran minyak jarak atau CPO (Crude Palm Oil) dengan solar atau disebut bio-fuel. Penggunaan bio-fuel ini merupakan solusi dalam menghadapi kelangkaan energi minyak bumi, di samping itu bio-fuel juga ramah lingkungan, dapat diperbaharui, dapat terurai, memiliki sifat pelumasan terhadap piston mesin, mampu mengeleminasi emisi gas buang dan efek rumah kaca, serta kontinuitas ketersediaan bahan baku terjamin.
Berbagai sumber minyak nabati yang sangat berpotensi untuk dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku bio-fuel adalah kelapa sawit, kelapa dan biji jarak pagar (Jatropha curcas L.). Pemanfaatan tanaman jarak pagar sebagai bahan baku bio-fuel tidak mengganggu penyediaan kebutuhan minyak makan nasional, kebutuhan industri oleokimia, dan ekspor CPO, karena tidak termasuk sebagai minyak makan (edible oil). Tanaman jarak pagar merupakan tanaman tahunan yang tahan kekeringan dan dapat beradaptasi dengan lahan dan agroklimat di Indonesia terutama Indonesia bagian Timur. Akan tetapi ada permasalahan yang dihadapi, yaitu belum adanya varietas unggul dan teknik budidaya yang memadai serta kemungkinan serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).
Banyak orang yang menganggap tanaman ini sebagai tanaman yang beracun dan mempunyai sifat fungisidal, sehingga tidak perlu mengkhawatirkan adanya serangan OPT, tetapi dari hasil laporan diketahui ada beberapa hama dan penyakit yang menimbulkan kerusakan secara ekonomi pada perkebunan jarak. Laporan tersebut harus dijadikan peringatan yang perlu menjadi perhatian kita, sebelum hal tersebut menimpa perkebunan jarak yang sedang dikembangkan.
BIOLOGI TANAMAN JARAK PAGAR
Tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) telah lama dikenal masyarakat Indonesia, yaitu semasa penjajahan oleh bangsa Jepang pada tahun 1942. Pada masa itu masyarakat diperintahkan untuk menanam jarak pagar di pekarangannya untuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar kendaraan perang bangsa Jepang. Oleh karena itu tidak mustahil kalau tanaman jarak pagar memiliki beberapa nama daerah (lokal) antara lain jarak budeg, jarak gundul, jarak cina (Jawa); baklawah, nawaih (NAD); dulang (Batak); jarak kosta (Sunda); jarak kare (Timor); peleng kaliki (Bugis); kalekhe paghar (Madura); jarak pager (Bali); lulu mau, paku kase, jarak pageh (Nusa Tenggara); kuman nema (Alor); jarak kosta, jarak wolanda, bindalo, bintalo, tondo utomene (Sulawesi); dan ai huwa kamala, balacai, kadoto (Maluku).
Tanaman jarak pagar termasuk perdu dengan tinggi 1 – 7 m, bercabang tidak teratur. Batangnya berkayu, silindris dan bila terluka akan mengeluarkan getah. Klasifikasi tanaman jarak pagar yaitu:
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Euphorbiaceae
Genus : Jatropha
Spesies : Jatropha curcas Linn
Morfologi / Ciri-ciri tanaman jarak pagar
Daun
Tanaman jarak pagar berdaun tunggal, berlekuk dan bersudut 3 atau 5. Daun tersebar disepanjang batang. Permukaan daun atas dan bawah berwarna hijau, permukaan bawah warnanya lebih pucat dibanding permukaan atasnya.
Daun lebar dan berbentuk jantung atau bulat telur melebar dengan panjang antara 5 – 15 cm. Helai daun bertoreh, berlekuk dan ujungnya meruncing. Tulang daun menjari dengan jumlah 5 – 7 tulang daun utama. Daunnya dihubungkan dengan tangkai daun, panjang tangkai daun 4 – 15 cm.
Bunga
Bunga tanaman jarak pagar adalah bunga majemuk berbentuk malai, berwarna kuning kehijauan, berkelamin tunggal dan berumah satu (putik dan benang sari dalam satu tanaman). Bunga betina 4 – 5 kali lebih banyak dari bunga jantan. Bunga betina dan bunga jantan tersusun dalam rangkaian berbentuk cawan yang tumbuh di ujang batang atau ketiak daun. Bunga memiliki 5 kelopak berbentuk bulat telur dengan panjang kurang lebih 4 mm. Benang sari mengumpul pada pangkal dan berwarna kuning. Tangkai putik pendek berwarna hijau dan kepala putik melengkung keluar berwarna kuning. Bunganya mempunyai 5 mahkota berwarna keunguan. Setiap tandan terdapat lebih dari 15 bunga. Tanaman jarak pagar termasuk tanaman monoecious dan bunganya uniseksual. Kadangkala muncul hermaprodit yang berbentuk cawan berwarna hijau kekuningan.
Buah
Buah jarak pagar berupa buah kotak berbentuk bulat telur dengan diameter 2 – 4 cm. Panjang buah 2 cm dengan ketebalan sekitar 1 cm. Buah berwarna hijau ketika muda serta abu-abu kecoklatan atau kehitaman ketika masak. Buah jarak terbagi menjadi 3-5 ruang, masing-masing berisi satu biji sehingga tiap buah terdapat 3-5 biji. Biji berbentuk bulat lonjong dan berwarna coklat kehitaman. Biji inilah yang banyak mengandung minyak dengan rendemen mencapai 30% – 50% dan mengandung toksin sehingga tidak dapat dimakan.
Syarat Tumbuh
Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik pada dataran rendah sampai pada ketinggian 500 m dpl. Curah hujan yang sesuai untuk tanaman jarak pagar adalah 625 mm/th, namun masih dapat tumbuh pada kisaran curah hujan 300 mm – 2.380 mm/tahun. Sedang kisaran suhu yang diperlukan adalah antara 20ºC – 26ºC, pada suhu ekstrim (dibawah 15ºC atau diatas 35ºC) akan menghambat pertumbuhan serta mengurangi kadar minyak dalam biji dan mengubah komposisinya.
Tanaman jarak pagar mempunyai sistem perakaran yang mampu menahan air dan tanah sehingga tahan terhadap kekeringan serta berfungsi menahan erosi. Jarak pagar dapat tumbuh pada berbagai ragam tekstur dan jenis tanah dan mampu beradaptasi pada tanah yang kurang subur atau tanah bergaram, memiliki drainase yang baik, tidak tergenang dan pH tanah 5,0-6,5.
PENGENALAN OPT JARAK PAGAR
Pada masa lalu serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) tidak pernah diperhatikan, karena umumnya tanaman jarak pagar hanya ditanam sebagai tumpang sari dari tanaman lain. Tetapi dengan adanya pengembangan secara besar-besaran, kemungkinan tanaman akan ditanam dalam areal yang luas dan secara monokultur. Dengan demikian akan timbul masalah baru. OPT yang semula tidak menimbulkan masalah bisa menjadi masalah utama dan menimbulkan kerugian nyata.
Hama yang menyerang tanaman jarak pagar mulai dari perkecambahan sampai tanaman produktif antara lain : Spodoptera litura (ulat grayak), Scarabaeid (lundi, uret), Valanga spp. (belalang), Empoasca sp. (wereng daun), Tetranychus sp. (tungau), , Selenithrips rubrocinctus (Thrips) dan Ferrisia virgata (Kutu bertepung putih). Sedangkan hama yang menyerang hanya pada tanaman produktif yaitu Chrysocoris javanus (kepik penghisap cairan buah). Penyakit yang menyerang tanaman jarak pagar adalah : Bercak daun Cercospora, Layu Fusarium, dan Bercak daun bakteri. Gulma yang menyerang tanaman jarak pagar yaitu Suket grinting (Cynodon dactylon), Jaringan ketul (Bidens pilosa), Jebungan (Cyperus difformis), Bayam duri (Amaranthus spinosus), Babandotan (Ageratum conyzoides).
Hama yang menyerang pada pembibitan, pertanaman muda dan pertanaman produktif
Thrips (Famili Thripidae : Ordo Thysanoptera)
Pengenalan
Thrips (Selenithrips rubrocinctus Grd.) ditemukan hanya di daerah tropis dan suka sekali makan daun yang masih muda. Karateristik dari spesies ini adalah tiga segmen pertama dari abdomen nimfa berwarna merah. Di Indonesia banyak ditemukan pada tanaman mangga, salam dan jambu mete. Di India banyak menyerang tanaman kakao (Kalshoven, 1981).
Selenothrips rubricinctus
Gejala serangan
Karena serangga ini menghisap cairan daun yang masih muda, daun-daun jarak menjadi keriting dan berkerut. Lama-kelamaan daun menjadi kuning dan gugur.
Thrips pada tanaman jarak pagar
Tungau (Famili Eriophydae dan Famili Tarsonemidae : Ordo Acarina)
Tangau pada daun
Pengenalan
Ada dua kelompok besar tungau yang ditemukan pada tanaman jarak yaitu tungau bertungkai 2 pasang dari famili Eriophydae dan tungau bertungkai 4 pasang dari famili Tarsonemidae. Kerusakan yang ditimbulkan oleh kedua jenis tungau ini sangat merugikan.
Tungau Tarsonemidae, berwarna kuning hijau bening, tungau jantan lebih ramping dari tungau betinanya. Tungkai belakang panjang dan kuat berfungsi untuk mengangkat dan memindahkan tungau betina. Tungau ini menyebabkan tepi daun lebih bergelombang dibandingkan tungau Eriophydae. Tungau Eriophydae berbentuk kecil memanjang, berwarna kuning pada tungau dewasa dan bening pada tungau pradewasa. Hidup pada permukaan bawah daun dan pucuk yang masih muda, yang menyebabkan penebalan pada daun. Tungau adalah hama yang paling berbahaya pada masa vegetatif karena membawa virus dan serangannya kadang-kadang berat.
Gejala serangan
Gejala serangan daun menjadi berwarna kekuning-kuningan kemudian karat, kemudian daun mengeriput dan kemerah-merahan lalu gugur dan pada akhirnya tanaman akan mengalami hambatan dalam pertumbuhan. Daun yang terserang menjadi salah bentuk atau tidak normal (malformasi)
Gejala serangan tungau pada daun
Gejala serangan tungau pada pucuk tanaman jarak pagar
Kutu bertepung putih (Ferrisia virgata Cockerell)
(Famili Pseudococcidae : Ordo Homoptera)
Pengenalan
Kutu F. virgata ini mempunyai panjang hingga 4 mm, berbentuk oval, agak pipih, beberapa dengan benjolan – benjolan pendek di sepanjang sisi tubuh badannya. Metamorfosa sederhana yaitu telur – nimfa – dewasa. Kutu ini menghasilkan sekresi lilin berwarna putih dalam tepung yang berguna untuk perlindungan diri. Kutu bergerak cukup aktif. Penyebarannya sangat dibantu oleh angin, hujan dan hewan lain seperti semut. Nimfa dan kutu dewasa menghisap cairan pada bagian tanaman yang muda dan memproduksi embun madu yang disukai semut.
Kutu dapat berfungsi sebagai penyebar dan penularan virus tanaman. Kutu N. viridis bersifat polifag. Nimfa betina dapat dibedakan dengan melihat lapisan lilin di bagian dorsal berjumlah enam dan di bagian abdomen berjumlah lima. Badan kutu berwarna ungu kegelapan. Nimfa dan dewasa mengisap cairan pada bagian tanaman yang muda.
Gejala serangan
Jenis kutu menimbulkan kerusakan dengan gejala awal keriputnya bagian tanaman. Kemudian bagian tanaman yang terserang tersebut menjadi kering dan daunnya gugur. Kutu ini juga berfungsi sebagai vektor virus sehingga bagian tanaman juga dapat menjadi keriting karena terserang virus.
Wereng daun (Empoasca sp.)
(Famili : Cicadellidae dan Ordo : Homoptera)
Pengenalan
Merupakan salah satu hama utama di daerah tropis dan sub tropis. Di lapangan serangga ditemukan sepanjang tahun, tetapi sangat berbahaya bila menyerang lahan pembibitan. Betina meletakkan telur dalam jaringan daun, dekat dengan tulang daun di permukaan bawah.
Gejala Serangan
Nimfa dan imago mengisap cairan dari permukaan bawah sehingga daun berubah warna menjadi merah atau coklat, seringkali daun mengering dan mati atau daun menggulung/mengeriting di bagian ujung.
Imago Empoasca
Ulat grayak (Spodoptera litura)
(Famili : Noctuidae dan Ordo : Lepidoptera)
Pengenalan
Larva memiliki warna hitam terang dengan garis kuning pada abdomennya. Telur diletakkan berkelompok dalam berbagai ragam bentuk dan ukuran kurang lebih sebanyak 350 butir dan ditutup dengan bulu halus. Larva menetas setelah 3 – 5 hari dan hidup secara berkelompok dan merusak permukaan daun. Larva dewasa dalam waktu 2 minggu dapat mencapai panjang 50 mm. Pada siang hari larva bersembunyi di tempat teduh, sedang malam hari mereka menyerang tanaman muda. Pupa berada di dalam tanah. Kupu-kupu hidupnya pendek dan bertelur dalam 2 – 6 hari sebanyak 2.000 – 3.000 butir
Gejala Serangan
Penyebaran serangga ini termasuk sangat luas (kosmopolitan) terutama di negara Asia, Pasifik dan Australia. Serangga termasuk polifag pada berbagai jenis tanaman. Larva memakan daun tanaman, baik tanaman muda maupun tanaman dewasa dan meninggalkan bekas gigitan, pada serangan berat daun hanya tersisa tulang daunnya saja, bahkan terkadang tanaman menjadi gundul.
Belalang Daun (Famili Acrididae : Ordo Orthoptera)
Pengenalan
Belalang Valanga nigricornis berantena pendek, pronotum tidak memanjang ke belakang, tarsi beruas tiga buah, femur kaki belakang membesar, ovipositor pendek. Metamorfosa sederhana yaitu telur – nimfa – dewasa. Induk meletakkan telur di tanah. Setelah menetas, nimfa mulai merusak tanaman, biasanya menggigit daun dari tepi atau bagian tengah. Kerusakan berat dapat terjadi jika belalang menyerang tanaman yang masih muda.
Gejala serangan
Adanya bekas gerekan belalang pada daun atau bagian tanaman muda. Selain itu juga terdapat kotoran belalang di sekitar tanaman.
Uret (Famili Scarabaeidae : Ordo Coleoptera)
Pengenalan
Siklus hidup hama uret ini 9 – 11 bulan. Lama hidup imago 10 – 15 hari. Imago betina membuat lubang di dalam tanah saat akan bertelur. Telur diletakkan secara berkelompok, seekor betina dapat bertelur 15 – 60 butir selama hidupnya. Telur akan menetas setelah 6 – 14 hari. Larva yang baru keluar berwarna putih kebiruan. Larva instar ketiga berwarna kuning tua dengan bentuk tubuh seperti huruf C. Pada instar akhir larva hampir tidak berpindah tempat. Panjang instar akhir dapat mencapai 45–50 mm. Stadia Larva uret larva sekitar 172 – 224 hari. Stadia pupa terbentuk setelah melewati masa prapupa selama 2–3 hari. Panjang pupa 25–35 mm dan diketemukan pada kedalaman 20–30 cm atau lebih. Lama stadia pupa 21–24 hari.
Imago uret larva uret
Gejala serangan
Stadia larva sangat berbahaya karena memakan akar tumbuhan inang dan mematikan tumbuhan tersebut. Larva memakan akar tanaman sehingga tanaman tampak layu seperti kekurangan air, daun berwarna kuning, mengering dan akhirnya mati.
Hama yang hanya menyerang pada pertanaman produktif
Kepik Lembing (Chrysochoris javanus Westw)
(Famili Pentatomidae : Ordo Hemiptera)
Pengenalan
Kepik mempunyai panjang badan sekitar 20 mm. Antena beruas tiga, lebih panjang dari kepala, berbentuk perisai yang khas. Scutellum berkembang dengan baik. Tubuh berwarna jingga kemerahan dan terdapat garis-garis hitam yang jelas. Metamorfosa sederhana yaitu telur – nimfa – dewasa. Siklus hidup berkisar 60 – 80 hari. Nimfa dan kepik dewasa gerakakannya lambat. Kepik lembing menyerang pada saat pembungaan, menjelang pembentukan buah dan menghisap buah, sehingga menimbulkan kerusakan pada kapsul buah yang sedang berkembang.
Gejala serangan
Adanya bekas tusukan kepik pada bunga atau buah yang diserang. Bunga atau buah menjadi coklat kehitaman. Bunga tidak bisa menjadi buah, sedangkan pada buah menjadi rusak tidak bisa dipanen.
Kepik Lembing pada buah jarak pagar
Penyakit yang menyerang mulai dari pembibitan hingga pertanaman
Penyakit Bercak Daun Coklat
Penyebab penyakit Cercospora ricinella.
Gejala serangan
Gejala serangan pada daun ditandai dengan adanya titik hitam kecil atau titik coklat yang dikelilingi cincin berwarna hijau pucat berbentuk bulat atau agak bulat pada daun (berdiameter 1 – 3 mm). Sejumlah bercak muncul secara sporadis di permukaan daun. Ketika bercak membesar bagian tengah berwarna coklat pucat yang dikelilingi warna coklat tua. Bercak-bercak yang sudah tua berubah warna menjadi hijau keabu-abuan dengan kumpulan masa konidia di tengahnya. Beberapa bercak bergabung menjadi bercak yang tidak beraturan, pada serangan lanjut daun menjadi kering dan mudah jatuh.
Gejala serangan bercak daun coklat Pembesaran dari gambar sebelah kiri
Penyakit layu Fusarium.
Penyebab penyakit
Fusarium oxysporum.
Gejala serangan
Bagian tanaman yang diserang yaitu daun. Serangan dapat terjadi pada bibit dan tanaman di lapangan. Serangan pada bibit menyebabkan daun¬daun berwarna hijau pudar dan layu akhirnya mati. Serangan di lapangan menyebabkan daun-daun di bagian bawah rontok dan hanya menyisakan daun-daun di bagian atas saja.
Penyakit Bercak Daun Bakteri
Penyebab penyakit
Xanthomonas ricinicola.
Penyakit ini menyerang semua bagian tanaman pada semua stadia tanaman mulai dari pembibitan.
Gejala serangan
Gejala yang ditimbulkan adalah berupa bercak bulat dan tidak beraturan berwarna coklat gelap. Bakteri tumbuh dengan baik pada temperatur 31ºC. Gejala pada daun yaitu tampak bercak berwarna coklat kehitaman dan agak basah. Apabila daun yang terserang tidak segera dipetik, bercak akan menjalar ke batang dan dapat mematikan tanaman.
Gulma
Beberapa jenis gulma yang ditemui di pertanaman jarak pagar.
Suket grinting (Cynodon dactylon) Pembesaran dari gambar sebelah kiri
Jaringan ketul (Bidens pilosa) Pembesaran dari gambar sebelah kiri
Jebungan (Cyperus difformis) Pembesaran dari gambar sebelah kiri
Bayam eri (Amaranthus spinosus) Pembesaran dari gambar sebelah kiri
PENGAMATAN OPT JARAK PAGAR
Pengamatan adalah kegiatan pengumpulan informasi tentang keadaan populasi atau tingkat serangan OPT dan faktor yang mempengaruhi, pada waktu dan tempat tertentu.
Pengamatan dilaksanakan oleh petani/petugas di lokasi yang dipilih untuk mewakili areal tertentu, dengan menggunakan metode tertentu agar menghasilkan data yang representatif.
Pengamatan dilakukan secara berkala, sekali seminggu atau sekali sebulan sesuai dengan fase rentan tanaman / saat mulai munculnya OPT sebaran.
Pengamatan dapat menjadi dasar pengambilan keputusan perlu tidaknya dilakukan tindakan pengendalian OPT. Keputusan pengendalian dilakukan petani / kelompok tani untuk lahannya masing-masing. Petugas perlindungan menjadi fasilitator dan pendamping petani dalam pengambilan keputusan. Pengamatan juga bermanfaat dalam menilai keberhasilan tindakan pengendalian yang dilaksanakan.
Aspek-aspek dalam kegiatan pengamatan :
Sasaran pengamatan
Sasaran pengamatan pada pohon contoh tanaman jarak pagar dibedakan menurut organ tanaman, yaitu
a) Akar
b) daun dan pucuk
c) buah
Jenis OPT yang diamati pada bagian akar adalah jenis Scarabaeid (lundi, uret). Jenis OPT yang diamati pada bagian daun dan pucuk yaitu Spodoptera litura (ulat grayak), Valanga spp. (belalang), Empoasca sp. (wereng daun), Tetranychus sp. (tungau), Selenithrips rubrocinctus (Thrips) dan Ferrisia virgata (Kutu bertepung putih). Jenis OPT yang diamati pada bagian buah adalah Chrysochoris javanus (kepik lembing).
Pengambilan contoh
Untuk setiap kebun dipilih diambil 10 tanaman contoh untuk mewakili kondisi kebun tersebut. Pemilihan tanaman contoh dapat dilakukan mengikuti diagonal atau baris tanaman. Tanaman contoh dapat berupa tanaman yang sama untuk setiap pengamatan (contoh tetap) atau selalu berganti setiap pengamatan (contoh tidak tetap). Tanaman contoh tetap biasanya digunakan untuk mengamati fluktuasi perkembangan OPT tertentu sedangkan tanaman contoh tidak tetap digunakan untuk mengetahui kehadiran OPT yang menyerang pertanaman. Untuk petani dengan luas kepemilikan kebun yang terbatas sebaiknya pengamatan dilaksanakan pada seluruh tanamannya.
Hasil pengamatan
Hasil pengamatan adalah populasi OPT sasaran atau tingkat serangannya. Hasil pengamatan dicatat pada tabel seperti terdapat pada Lampiran 1. Untuk kemanfaatan hasil pengamatan, sebaiknya pengamatan difokuskan pada OPT utama di pertanaman jarak pagar setempat, misalnya Chrysochoris javanus (kepik lembing) dan penyakit Layu Fusarium. Pemilihan OPT yang akan diamati sepenuhnya tergantung pada kelompok tani jarak pagar setempat.
PENGENDALIAN OPT JARAK PAGAR
Prioritas pengendalian OPT tanaman jarak pagar diutamakan pada tindakan pencegahan yang dimulai dari pemilihan klon unggul dan tahan terhadap OPT sasaran, menjaga kesehatan tanaman dengan mengatur kelembaban kebun, sanitasi, pemupukan yang bijaksana. Jika tindakan tersebut tidak berhasil menekan atau mempertahankan peningkatan infestasi OPT sasaran, dapat dilaksanakan tindakan berikut.
Uret
(Famili Scarabaeidae : Ordo Coleoptera)
Pengendalian secara kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif cypermethrin, profenofos dan karbofuran. Pengendalian secara mekanis dengan mengumpulkan uret dan memusnahkannya. Pengendalian hayati dapat dilakukan dengan aplikasi cendawan Beauveria bassiana.
Thrips
(Famili Thripidae : Ordo Thysanoptera)
Pengendalian secara kimiawi berbahan aktif fipronyl atau profenofos dengan dosis 1 ml/liter atau ekstrak mimba dengan dosis 4 ml/liter. Sanitasi di areal pertanaman dengan mengumpulkan daun terserang kemudian dibakar.
Tungau
(Famili Eriophydae dan famili Tarsonemidae : Ordo Acarina)
Pengendalian secara kimiawi menggunakan akarisida berbahan aktif propargit dan amitras. Sanitasi di areal pertanaman dengan cara mengumpulkan daun terserang kemudian dibakar.
Kutu bertepung putih (Ferrisia virgata Cockerell)
(Famili Pseudococcidae : Ordo Homoptera)
Pengendalian secara kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif MIPC. Penggunaan insektisida masih kurang efektif karena telur, nimfa dan kutu dewasa ditutupi lapisan lilin sehingga cairan insektisida sulit menembus. Musuh alami kedua kutu ini antara lain : predator Curinus coerulus dan Coccinella repanda. Sanitasi kebun dilakukan dengan membuang dan membakar bagian tanaman yang terserang.
Wereng daun (Empoasca sp.)
(Famili : Cicadellidae dan Ordo : Homoptera)
Varietas tanaman jarak pagar yang memiliki kandungan karoten rendah lebih toleran atau memiliki lapisan lilin pada bunganya kurang disukai wereng. Jadi penanaman varietas ini bisa mencegah serangan disamping aplikasi insektisida yang mengandung imidaklorit, betasiflutrin dan karbosulfan pada pembibitan atau penggunaan insektisida sistemik yang direkomendasikan.
Ulat grayak (Spodoptera litura)
(Famili : Noctuidae dan Ordo : Lepidoptera)
Untuk mengatasi ulat grayak ini agak sulit karena seringkali serangan terjadi secara mendadak dan tidak diduga sebelumnya. Namun pengendalian dengan memadukan berbagai cara pengendalian, antara lain pengendalian secara mekanis dengan mengumpulkan kelompok telur dan larva instar awal, kemudian dimusnahkan; musuh alami yang ada di lapangan, misalnya parasit telur Telenomus spodopterae, parasit larva Microplitis manilae, predator dari Carabidae, pathogen NPV dan Borrelinavirus ; Insektisida nabati dari serbuk biji nimba (SBM); bila populasi tinggi dapat digunakan bio-pestisida yang berbahan aktif Bacillus thuringiensis atau virus Spodoptera litura-NPV; atau insektisida sistemik yang direkomendasikan.
Belalang Daun
(Famili Acrididae : Ordo Orthoptera)
Pengendalian secara kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif MIPC dan BPMC. Pengendalian secara hayati menggunakan cendawan Metarhizium sp. atau Beauveria bassiana. Pengendalian secara mekanis dengan mengumpulkan telur, nimfa dan imago kemudian dimusnahkan. Pengendalian secara kultur teknis dengan tidak menanam tanaman inang lain seperti jagung dan kacang-kacangan.
Kepik Lembing (Chrysochoris javanus Westw)
(Famili Pentatomidae : Ordo Hemiptera)
Pengendalian secara kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif imidachlorpid dan MIPC. Pengendalian dengan pestisida nabati dapat menggunakan ekstrak mimba. Pengendalian secara mekanis dilakukan dengan mengumpulkan telur, nimfa dan imago kemudian dimusnahkan. Pengendalian secara kultur teknis dengan tidak menanam tanaman inang lain seperti padi, jagung, kacang-kacangan, jenis solanaceae di sekitar areal pertanaman.
Penyakit Bercak Daun Coklat.
Menggunakan varietas tahan dan toleran. Pengendalian penyakit dapat menggunakan fungisida berbahan aktif karbendazim atau mankozeb. Sering melakukan sanitasi kebun dengan membuang dan memusnahkan bagian tanaman terserang penyakit.
Penyakit layu Fusarium.
Untuk pencegahan pilih benih dan bibit yang sehat. Perlakuan benih dengan merendam biji dalam larutan fungisida berbahan aktif karbendazim. Penggunaan varietas tahan atau toleran, perbaikan saluran drainase untuk mencegah penggenangan air di sekitar tanaman dan membakar sampah atau bagian tanaman yang terinfeksi juga dapat menekan perkembangan penyakit layu fusarium. Untuk pengendalian di lapangan pengendalian dapat menggunakan fungisida berbahan aktif karbendazim. Sanitasi kebun dilakukan dengan cara membersihkan gulma, membuang dan membakar bagian tanaman yang sakit.
Penyakit Bercak Daun Bakteri
Dikendalikan dengan sanitasi, perlakuan biji yang akan digunakan sebagai bibit dan insektisida.
Gulma
Bibit jarak pagar peka terhadap persaingan dengan gulma selama awal pertumbuhannya. Oleh karena itu pengendalian gulma baik secara mekanis atau dengan herbisida dianjurkan selama fase awal penanaman. Gulma yang berada dalam polybag perlu dibersihkan / dicabut dengan interval 2 minggu sekali agar tidak mengganggu perakaran dan pertumbuhan bibit. Seperti halnya di pembibitan, tanaman jarak pagar yang masih muda sangat peka terhadap pengaruh gulma di sekitar perakarannya. Untuk itu penyiangan gulma perlu dilakukan pada 20 hari setelah tanam, selanjutnya dilakukan sekali dalam 3-4 bulan.
From: www.pdf-search-engine.com/jarakpagar-pdf.html





